Thursday, December 8, 2011
Masih Kuat
Bermimpi Besar
Friday, October 14, 2011
I'm SMART. (And So Are You)
For the sake of background information, let me tell you about my academical record:
Jaman SD.
I WAS THE MAN. Yah, figuratively speaking sih, because technically i was a boy back then. Langganan ranking 3 besar di kelas dan di sekolah, sering banget disuruh ikut lomba dan cerdas cermat, mengharumkan nama sekolah banget lah.
Sejarah 6 taun itu berakhir manis dengan gue jadi ranking 1 se-sekolah dan jadi murid dengan NEM terbaik. Pulang dengan memboyong 2 piala yang gedenya ampir nyaingin badan gue. (Bohong sih, wong gue SD segede gaban) (Gaban itu apa ya btw?) (Yah well, carry on)
Jaman SMP.
Mulai ngerti kesenangan duniawi. (Apa hayoo) And hence culminate to degradation of my academical achievement. Masih 10 besar sih, tapi udah jarang masuk 5 apalagi 3 besar.
Jaman SMA.
Semakin dirasuki dan dibuai wanginya surga dunia. *halah* Apalagi makin banyak kegiatan ekstra-kulikuler dan maen sama temen, makin nyusruk lah aspek akademik gue. Tapi ga sampe parah-parah banget sih, yah paling ulangan fisika gue dapet 0 pernah lah. (But no matter how unbelievable this may seems, ini lumrah loh) Kurvanya mulai menanjak dan mencapai titik kulminasi tertingginya saat gue mau SPMB. Dengan motivasi pribadi yang menggebu untuk masuk FK Unpad, bantuan si D 1673 FK (yang dengan seenaknya gue terjemahkan sebagai 1 6ot 7o 3nter FK), dan heavily sleep deprived life cycle, gue bener-bener jadi anak rajun dan pintar dan membantu nenek menyebrang jalan.
Jaman kuliah S-1.
Sibuk di angkatan. Sibuk CIMSA. Sibuk basket. Sibuk Senat. Sibuk mengejar kepulan asap Damri terakhir biar bisa pulang hari itu. Sibuk pacaran. Sibuk wisata kuliner Jatinangor. Sibuk nongkrong di Sarmon. Sibuk maen. Sibuk membuka diri seluas mungkin pada berbagai kesempatan yang hidup tawarkan. But unfortunately, academic is not one of them. Gagal lulus dengan status "Dengan Pujian" sebenernya cukup bikin kecewa sih, since nyokap adalah orang yang sangat pintar (S-1 dan S-2 nya lulus dengan IPK 4) dan berharap anak-anaknya sepintar beliau. Meski beliau santai sih, dijadiin bahan becandaan aja..haha.
Jaman Koas.
Bagian pertama Mata: Nilai A. Jadi lulusan terbaik bareng Ruli. Dapet tawaran beasiswa.
Bagian kedua Rehab Medik: Nilai B++ (karena ketauan tidur pas perseptoran -_-").
Bagian ketiga Gigi Mulut: Nilai A. Jadi lulusan terbaik bareng Irawan dan Nita.
Bagian keempat Kedokteran Nuklir: Ga dikasitau nilainya sih, tapi ad bonam. **
Bagian kelima THT: Menanti ujian minggu depan. Semoga bagus hasilnya, amiin.
Fakta diatas bikin gue mikir, SEMUA ORANG ITU PINTAR ASAL MAU USAHA.
Karena apa yang membedakan antara gue saat koas dan kuliah adalah; PASSION.
Semasa kuliah gue menaruh passion gue untuk hal-hal lain yang sampe saat ini gue masih berdoa semoga hal-hal itu bermanfaat, sedangkan saat koas ada sesuatu yang merebut kembali passion itu ke aspek akademik. Hal apakah itu? Nantikan di post selanjutnya. :p
Jadi intinya, buat kamu-kamu yang ngerasa ga pinter ato emang ga dikaruniai bakat buat pinter, that's a complete bullshyt. I'm the living proof of my own previous sentence. Jangan jadiin itu sebagai alibi dari kejahatan lo sebenarnya; kemalasan buat berusaha.
Percayalah, potensi yang disia-siakan adalah dosa, teman. :)
*Harrisson itu buku kedokteran yang tebelnya se...yah pokoknya tebel deh.
** Serius paragraf ini bukan buat sombong, lagian mau sombong ke siapa? Wong yang baca post ini orangnya lo-lagi-lo-lagi..haha
Sunday, June 12, 2011
- dicatut dari blognyah Achie.
Word, Chie..word.
Eta pisan.
Thursday, May 26, 2011
Genre
Wednesday, May 25, 2011
Tuesday, May 24, 2011
Experience
If you're physically incapacitated for actually doing one, let your mind go first.
- Sesuatu yang gue pelajari dari ngeliat Teh Moi (Almira Aliyannisa) yang sedang bertualang di negeri-negeri yang gue harap suatu hari nanti bisa jejaki.
Its not about the having fun or moreover the shopping *err, I'm not actually the shopping type* its about SEEING, HEARING, and SENSING pixels of world since its so huge yet I' m just a tiny matter. :)
Nasib
Idup itu kayak naek Damri.
Lo bisa ngeliat Mercy di jalur kiri dan ngebayangin betapa dingin AC-nya, betapa empuk kursinya, segimana gaya untuk ada di dalemnya, atau lo bisa liat ke kanan jalan dan liat anak-anak jalanan, terik matahari yang mereka rasa tiap hari, kerasnya idup mereka, dan betapa yang misahin lo ama mereka cuma satu, NASIB.
Jangan omong kosong tentang gimana lo udah kerja keras untuk sampe di posisi lo sekarang, kalo lahir di di bawah jembatan kayak mereka, dengan usaha doang emang bisa lo ada disini sekarang?
Mirisnya, mereka juga liat BMW, ngebayangin betapa dingin AC-nya, betapa empuk kursinya, dan segimana gayanya untuk ada di dalemnya, setiap hari.
Kapan Harus Dewasa?
“Hari ini, besok harga naik” - @gynaecia
Kapan harus ganti gaya rambut?
Hilangkan poni, gondrong dengan sedikit gaya-gue-gimana-gue style, jadikan belah samping rapi plus minyak rambut klimis opsional.
Kapan harus berenti suka maen game?
Tombol-tombol yang akrab di jari main Final Fantasy terganti pahit manis bermain hati.
Kapan harus berhenti baca komik?
Walau koran banyak manfaatnya, One Piece, Conan, Eyeshield 21, dkk selalu punya eksitasi tersendiri.
Kapan harus memaksa jeans kesayangan untuk pensiun?
Dan membiasakan diri bercelana kain. Bah, seperti tak cukup saja tiap hari di kampus ku memakainya.
Kapan harus sadar kalau menikmati momen dengan caraku sendiri tanpa merugikan orang lain adalah dosa?
Kapan aja boyeeh.
…
Kapan harus dewasa?
Atau lebih tepatnya, kenapa harus indikator teknis seperti itu yang dijadikan patokan?
Padahal aku percaya bahwa manusia bisa pertahankan semangat dan antusiasme si bocah TK tapi tetap mengutamakan kepentingan bersama, berpikir logis idealis namun tetap menjejak realita, visioner namun tak tenggelam dalam masa depan yang masih fana.
Secara tidak sadar kita tumbuh menjadi orang yang mempersempit definisi, mengaburkan makna kedewasaan itu sendiri.
-Aku, yang menolak dewasa dengan cara mereka.
Saturday, May 14, 2011
5 Art of Happiness
Makan, tidur, olahraga, dsb. Makan menimbulkan sensasi puas, olahraga membantu melepas hormon endorfin yang menimbulkan sensasi senang, tidur mengaktifkan syaraf parasimpatis yg memberi efek rileks.
2. Intelectual Happiness
Belajar, belajar, dan belajar. Semakin banyak belajar, semakin ringan langkah ini dan semakin percaya diri. Emang sih kadang yang namanya belajar itu malesin banget (moreover, given the circumstances kudu ngapalin 32 kasus dalam kurang dari seminggu. groarr), tapi secara ga sadar setelah proses belajar itu selalu ada sensasi puas dan merasa jadi manusia yang lebih baik. Belajar disini ga selalu harus suatu disiplin ilmu tertentu, perluas wawasan umum juga punya efek yang sama,
3. Estetical Happiness
Semua itu harus diatur sedemikian rupa agar enak dipandang. Otak kanan manusia sudah hakikatnya memiliki sense keindahan, maka saat melihat diri, keadaan sekitar, lawan jenis (?!), atau segala sesuatu yang indah-indah lainnya, secara alami kita akan merasa bahagia.
4. Moral happiness
Bermanfaat untuk orang lain. Disadari atau tidak, kebahagiaan yang sesungguhnya didapat dari kita berbagi dengan orang lain. Paradox of sharing, semakin banyak kita berbagi, semakin banyak yang kita dapatkan. Islam juga ngajarin kita bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lain.
5. Spiritual Happiness
Hal yg menjadi ruh dari segala kebahagiaan, tanpa iman, kita tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sepenuhnya. Iman itu hakikatnya naik turun, gue suka ngerasain kalo iman lagi turun, shalat ga khusyuk, mau ngapa-ngapain jadi ga enak. Makanya harus dijaga banget nih yang satu ini. :)
Tulisan ini bersumber dari Prof. Komaruddin Hidayat yang kemudian ditwit oleh @Zulmi_Cumi si senior nan hobi galau et causa pengen cepet kawin dan lalu diritwit lagi oleh @rizkavs mantan ketua seksi gue dulu di Seksi Pembinaan & Kaderisasi Senat Mahasiswa FK Unpad, FYI beliau ini juga salah satu mentor yang mengambil peran cukup besar atas pencapaian-pencapaian yang gue raih. :) Trus ditambah-tambahin dengan pikiran gue sendiri juga sih..hehe.
Now, back to draft SOOCA!
Thursday, May 12, 2011
Through Days Like These We Grew. :)
#nowplaying Feist - Mushaboom
Karena udah lama ga blogging…apa kabar Tumblr?
…
Edan pundung lah ga mau jawab. Okeh!
Assuming you would ask me back, overall I’m fine. :)
Lagi hectic MDE-SOOCA-SIDANG nih. Semoga aja beneran jadi UAS terakhir gue.
Ujian terakhir yang KERASS (S-nya ampe dobel) ini berlangsung sebulan totalnya. Memberi gue dan temen-temen seangkatan beban fisik dan mental yang ga ringan. But I’m sure we’ll manage. Through days like these we grew, right? :)
Kesehatan agak menurun soalnya banyak begadang demi nonton Burn Notice ngapalin 32 case SOOCA dan ngelahap (not literally) ribuan soal buat MDE.
Lutut kiri masih belom sembuh dari oleh-oleh Olymphiart kemaren, quadriceps straining. Jadi masih betah rehabilitasi manasin-regangin otot tiap pagi dan sedia counterpain di tas. Gue kangen jongkok dan lompat-lompat! Serius ini mah, activitas boker normal terlihat sangat berharga kalo udah gini. Pengen maen basket juga. Not like i had time for sport or anything sih. Ya berdoa aja semoga cepet sembuh deh..amiin.
Kosan acak-acakannya udah kayak kandang. Dengan kondisi ampir tiap malem nginep di Sarmon (Sarang Monyet, kosan Galan yang berasal dari spesies Macaca fascicularis) gue ke kosan cuman mandi-ganti baju-drop dan ambil barang.
Laptop yang setia ngerjain skripsi berminggu-minggu kemaren tombol N-nya rusak kayanya. Harus dipencet keras banget baru keluar. nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.
HP sejak diinstal O.S 6 jadi sering hang dan agak lemot. Sempet kepikiran ganti lagi jadi O.S 5. :/
Pikiran? Ah i can barely think about anything else than my exam. Paling lagi seneng baca-baca soal NII dan PKS, dan keadaan islam di Indonesia sekarang ini.
Emotional state? Relatively stable, with a little endorphins turn-over here and there. ;)
But ah, life is just too short for an emotional roller coaster, ain’t it?
Boleh Berdarah Asal Jangan Mati.
When the going gets tough, the tough gets going.
Saat keadaan smakin keras, hanya yang KERAS yg akan bertahan.
*klo ditranslate jd ambigu :/
Sure the days now aren't like any other days. But the self within us, are we just any other us? :)
Through days like these we grew, people. Better, faster, stronger. We might bleed in the process, but stay alive. Because the scars count.
Being sleepy is only a state of mind. I don't need sleep, I just want them so bad. #yearight *yawn
If life was a toy, on the box it would say, "CAUTION! NOT FOR LOSERS"
There's this some kind of signal burst both in my phonecells and my brain cells. Its dimwittedly dilbitted.
Kenapa dipindah kesini? Yah soalnya setelah dipikir-pikir sayang aja kalo pikiran-pikiran gue terbuang percuma di Twitter doang yang masa penyimpanan datanya cuma sekitar dua minggu..
Sunday, May 8, 2011
Away and Apart
A home is not a house, its people.
Home is entirely bout the people you love. The people who watched you grew. The people you grew up with. Your family.
Its not about how much time you spend in it.
For nearly 4 years I have spent my life in Jatinangor, a town where my campus stands. Each and every single week in it means 5 days in kosan and 2 days in my real house.
Sometimes when I have some extra activities going on, I didn’t even come home.
It seemed okay at the moment, I would make a single phone call and my mom would say its okay for me not to come home that weekend. I barely notice a dissapointed tone on her voice..
Now, on the verge of my sister’s wedding, I look back to those moment and I feel a slight of regression. Now one of my family will go away, someday my other sister will too. And my time will eventually come too.
I guess its a part of growing up, to be seperated to our own way, to our own destiny..
-Ditulis oleh saya, diatas Damri yang berjalan perlahan. Menjauhi rumah. Menjauhi mereka yang biasa hangatkan jiwa.
Ups and Downs
When I die and my brain is being sectioned, I want those nerdy professor guys to find an interesting-full of ups and downs-story in it.
Yeah, I sometimes forgot that in order for a life to be awesome and UNboring, it needs “downs” as much as it needs “ups”. Well, anything but a straight-plain-mediocre life.
It’ll hurt but I’ll manage. :)
Thursday, March 3, 2011
Miles
“Fuck the miles. Fuck them.”
- Going The Distance
Abis nonton film ini jadi semacam tertohok. Teriris. Tersayat. Terbelah bagai sembilu.(?!)
Selama ini selalu kalah ama yang namanya jarak nih. Padahal jarak terjauh juga cuman Bandung - Jakarta. Not fully committed, my friends used to say. Easily tempted, others would have thought.
Padahal ntar kalo PTT di, lets say Papua, gue bakal jauh sama siapapun itu. Untuk waktu yang ga sebentar pula. Mau jadi apa gua? Mau cinlok ama warga lokal, kawin siri dan menghasilkan anak-anak item rambut kriwel yang berlarian dengan koteka?
Well, that’s exactly not the way i would picture myself in 5 to 10 years ahead.
Yeah, i have to fix it, i guess.
Lost and Found: Excitement
(Ki-Ka: Belakang: Disti, Iie, Ivone, Kate. Depan: Kara, Maya, Bonar, Vina, Novery, Gue )
Yaay! Setelah dua minggu gue ditinggal foto sama kelompok tutor pas lab yang mana lalu fotonya diaplot di FB dengan caption; “Tutor GUS A2 FULL TEAM” (entah kenapa gue tau ada penekanan khusus pada kata “full team”), akhirnya gue berhasil masup foto dan kelompok gue beneran full team! Hahaha.
Sebenernya bukan salah mereka juga gue ga masuk foto di dua kali lab berturut-turut gue cabut lab. Jangan dicontoh ya, I’ve been a bad boy..*geleng-geleng* *mendesah penuh sesal*
Foto-foto di lab gini somehow mengingatkan gue akan excitement dan kebanggan yang once gue miliki. Gue ama anak-anak suka ngetawain ngeliat anak 2010 pada hobi banget foto di kampus. Di lab foto, di plaza foto, di ruang lecture foto, kayaknya tinggal di ruang dekan aja mereka belom foto. (But I know they’re trying, though) Dibalik tawa itu gue keingetan kalo gue ama anak-anak seangkatan 2007 juga sama noraknya ama mereka dulu, but somewhere along the road med-school’s madness took that excitement away from us..
I miss that eagerness, i miss that excitement.
I miss that passion. :’)Guts and Skills
Don Juan.
Playboy Cap Kampak. (semacem minyak kayu putih)
Si Brengsek Ranking 1.
They have been calling me by almost any ways i can imagine, these days.
They say that I'm a jerk for having so many exes, for having no trouble whatsoever on getting any girl i want, for not waiting long enough to move on from one girl to another.
But the fact is they don't know shit about me. They're just assuming what i am now alike based on what they know about me on my dim past.
But that's okay, i fully understand that people judge you like, all the time.
Its just that after a while of observation, i got to one conclusion.
Society, especially men, actually needs a douchebag.
Weird, eh?
As much as they laughing and "Parah, parah.."-ing my stories, they actually got excited and enjoys every part of them.
Moreover, they kinda worship me i guess. For saying what they cannot say, doing what they cannot do, and having what they cannot have.
And guess what, as soon as my day 1 through retirement from the dirtbag world, they start to whine and begging me not to. Saying all that craps about how not cool i get after i quit being jerk.
There's a huge difference between "wont" and "cant".
So after all, I'm not the bad guy, you know.
I'm just YOU, plus guts and skills.