Showing posts with label my thoughts. Show all posts
Showing posts with label my thoughts. Show all posts

Thursday, December 8, 2011

Masih Kuat

Lapor, para pembaca sekalian.
Gue sekarang sedang berada di ruang Prof. Hendro, kepala bagian Bedah Vaskuler, menggunakan fasilitas komputer dan internetnya sementara beliau di OK. Sebuah tindakan yang mengancam keselamatan jiwa raga.

Karena bingung mau ngapain, gue ngeberesin draft-draft gue di blogger dan nemu ini.
Likely gue tulis pas jaman mau SOOCA kayaknya.
Dari kontennya nampak sekali bahwa gue nearly suicidal, but thank God i didn't proceed.
Bottomline, emang idup gue di koas (khususnya sembilan minggu di bagian bedah ini) berat.
Berat banget.
But hey, this draft proves that i've been in a situation which seems worse and more depressing, and i managed to survive. :)

"Akhir-akhir ini idup gue suram.
Dunia serasa sempit.
Ga heran, soalnya dunia buat gue akhir-akhir ini cuma berkisar tempat tidur dan meja belajar.
Kadang bosen bikin gue pindah belajar ke tempat tidur...yang akhirnya bisa ditebak, ketiduran juga.
Lain waktu gue belajar sampe ketiduran, di meja belajar.
Malah akhir-akhir ini kepala jadi lebih akrab tidur di atas Braunswald daripada bantal.
Berharap selama tidur, huruf-huruf itu berdifusi ke otak gue.

Muak juga.
Sekarang daripada ke kosan, gue lebih apal jalan ke Copa.
Rembesan stabilo mulai meramaikan seprai.
Sering panik karena si a punya fotokopian anu dan gue engga. Padahal mungkin punya, nyelip entah dimana.
Kebaca ngga kebaca yang penting punya mendadak jadi prinsip publik.
Mungkin bumi bakal mencak-mencak kalo tau berapa batang pohon yang abis buat fotokopian yang ga kebaca itu.


Mama bilang ini soal amanah. Aku bilang ini soal tubuh dan pikiran yang lelah.
Mama bilang jangan menyerah. Aku bilang mungkin tekadku mulai lemah.
Mama bilang tentang ilmu yang dititipin Allah sama aku. Aku, mau tak mau, juga setuju.

Masih KUAT.
Sekeras apapun aku belajar hari ini, selarut apapun aku tidur malam ini, aku tak mau bangun dengan penyesalan esok pagi."


Yep, you're right, younger me.
Masih KUAT. Semoga semangat itu tetap terjaga dalam diri.

Bermimpi Besar

Semustahil apapun kelihatannya, jangan takut bermimpi besar!
Tetap teguh pada mimpi itu, berusaha sekuatnya, dan berdoa pada-Nya.
Ia-lah Sang Pemegang Kunci Takdir. :)

Friday, October 14, 2011

I'm SMART. (And So Are You)

Mungkin judul post ini bikin kalian agak pengen ngelempar Harrisson* ke muka sayah, tapi gimanapun juga itulah yang gue rasain semenjak masa koas. *ngelak dari Harrisson*

For the sake of background information, let me tell you about my academical record:
Jaman SD.
I WAS THE MAN. Yah, figuratively speaking sih, because technically i was a boy back then. Langganan ranking 3 besar di kelas dan di sekolah, sering banget disuruh ikut lomba dan cerdas cermat, mengharumkan nama sekolah banget lah.
Sejarah 6 taun itu berakhir manis dengan gue jadi ranking 1 se-sekolah dan jadi murid dengan NEM terbaik. Pulang dengan memboyong 2 piala yang gedenya ampir nyaingin badan gue. (Bohong sih, wong gue SD segede gaban) (Gaban itu apa ya btw?) (Yah well, carry on)

Jaman SMP.
Mulai ngerti kesenangan duniawi. (Apa hayoo) And hence culminate to degradation of my academical achievement. Masih 10 besar sih, tapi udah jarang masuk 5 apalagi 3 besar.

Jaman SMA.
Semakin dirasuki dan dibuai wanginya surga dunia. *halah* Apalagi makin banyak kegiatan ekstra-kulikuler dan maen sama temen, makin nyusruk lah aspek akademik gue. Tapi ga sampe parah-parah banget sih, yah paling ulangan fisika gue dapet 0 pernah lah. (But no matter how unbelievable this may seems, ini lumrah loh) Kurvanya mulai menanjak dan mencapai titik kulminasi tertingginya saat gue mau SPMB. Dengan motivasi pribadi yang menggebu untuk masuk FK Unpad, bantuan si D 1673 FK (yang dengan seenaknya gue terjemahkan sebagai 1 6ot 7o 3nter FK), dan heavily sleep deprived life cycle, gue bener-bener jadi anak rajun dan pintar dan membantu nenek menyebrang jalan.

Jaman kuliah S-1.
Sibuk di angkatan. Sibuk CIMSA. Sibuk basket. Sibuk Senat. Sibuk mengejar kepulan asap Damri terakhir biar bisa pulang hari itu. Sibuk pacaran. Sibuk wisata kuliner Jatinangor. Sibuk nongkrong di Sarmon. Sibuk maen. Sibuk membuka diri seluas mungkin pada berbagai kesempatan yang hidup tawarkan. But unfortunately, academic is not one of them. Gagal lulus dengan status "Dengan Pujian" sebenernya cukup bikin kecewa sih, since nyokap adalah orang yang sangat pintar (S-1 dan S-2 nya lulus dengan IPK 4) dan berharap anak-anaknya sepintar beliau. Meski beliau santai sih, dijadiin bahan becandaan aja..haha.

Jaman Koas.
Bagian pertama Mata: Nilai A. Jadi lulusan terbaik bareng Ruli. Dapet tawaran beasiswa.
Bagian kedua Rehab Medik: Nilai B++ (karena ketauan tidur pas perseptoran -_-").
Bagian ketiga Gigi Mulut: Nilai A. Jadi lulusan terbaik bareng Irawan dan Nita.
Bagian keempat Kedokteran Nuklir: Ga dikasitau nilainya sih, tapi ad bonam. **
Bagian kelima THT: Menanti ujian minggu depan. Semoga bagus hasilnya, amiin.

Fakta diatas bikin gue mikir, SEMUA ORANG ITU PINTAR ASAL MAU USAHA.
Karena apa yang membedakan antara gue saat koas dan kuliah adalah; PASSION.
Semasa kuliah gue menaruh passion gue untuk hal-hal lain yang sampe saat ini gue masih berdoa semoga hal-hal itu bermanfaat, sedangkan saat koas ada sesuatu yang merebut kembali passion itu ke aspek akademik. Hal apakah itu? Nantikan di post selanjutnya. :p

Jadi intinya, buat kamu-kamu yang ngerasa ga pinter ato emang ga dikaruniai bakat buat pinter, that's a complete bullshyt. I'm the living proof of my own previous sentence. Jangan jadiin itu sebagai alibi dari kejahatan lo sebenarnya; kemalasan buat berusaha.
Percayalah, potensi yang disia-siakan adalah dosa, teman. :)


*Harrisson itu buku kedokteran yang tebelnya se...yah pokoknya tebel deh.
** Serius paragraf ini bukan buat sombong, lagian mau sombong ke siapa? Wong yang baca post ini orangnya lo-lagi-lo-lagi..haha

Sunday, June 12, 2011

"Ada yang aneh dengan cara saya menghadapi waktu selama ini. Saya banyak protes, “toh gua pingin begini dan begitu, tapi gak bisa, karna gua harus begini dan begitu..” Dan pikiran ini berakhir dengan memanjakan diri, malas-malasan, ngabisin waktu lebih banyak dibandingin dengan bener-bener ngelakuin hal-hal yang saya pengen."
- dicatut dari blognyah Achie.

Word, Chie..word.
Eta pisan.

Thursday, May 26, 2011

Too much sweets will rust your teeth.
Too much tweet will deteriorate your deed.
Too much of everything never means good, bro.

Genre

Obrolan malem ini.


Asun: "Eh Bonk, berarti si Ted di HIMYM tuh udah pacaran sama banyak cewe yah sampe bisa dibikin film?"

Tomat: "Nah berarti si Ribonk juga bisa..hahaha"

Yang-Laen-Yang-Tadinya-Sibuk-Masing-Masing-Trus-Serempak-Berenti: "HAHAHAHAHA"

Gue: "Woo bangsat mat! Haha"

Tomat: "Haha, tapi si Yogi juga bisa.."

Gue: "Tapi beda, kalo urang jadinya film komedi, kalo si Yogi jadinya film drama menjurus sinetron..hahaha"


It actually got me thinking, if our life were about to be put on movie, what genre will it be?

Well it depends on how we go through our lives, on how we see the future ahead, and on how we look those days behind. :)

Wednesday, May 25, 2011

There's an art even in joking.
Be decent by crossing the line but be careful not to break the boundaries. :)

- Learned by trial and error method.

Tuesday, May 24, 2011

Experience

Traveling is mind over matters.
If you're physically incapacitated for actually doing one, let your mind go first.

- Sesuatu yang gue pelajari dari ngeliat Teh Moi (Almira Aliyannisa) yang sedang bertualang di negeri-negeri yang gue harap suatu hari nanti bisa jejaki.
Its not about the having fun or moreover the shopping *err, I'm not actually the shopping type* its about SEEING, HEARING, and SENSING pixels of world since its so huge yet I' m just a tiny matter. :)

Nasib

Idup itu kayak naek Damri.
Lo bisa ngeliat Mercy di jalur kiri dan ngebayangin betapa dingin AC-nya, betapa empuk kursinya, segimana gaya untuk ada di dalemnya, atau lo bisa liat ke kanan jalan dan liat anak-anak jalanan, terik matahari yang mereka rasa tiap hari, kerasnya idup mereka, dan betapa yang misahin lo ama mereka cuma satu, NASIB.

Jangan omong kosong tentang gimana lo udah kerja keras untuk sampe di posisi lo sekarang, kalo lahir di di bawah jembatan kayak mereka, dengan usaha doang emang bisa lo ada disini sekarang?

Mirisnya, mereka juga liat BMW, ngebayangin betapa dingin AC-nya, betapa empuk kursinya, dan segimana gayanya untuk ada di dalemnya, setiap hari.

Kapan Harus Dewasa?

“Hari ini, besok harga naik” - @gynaecia

Kapan harus ganti gaya rambut?
Hilangkan poni, gondrong dengan sedikit gaya-gue-gimana-gue style, jadikan belah samping rapi plus minyak rambut klimis opsional.

Kapan harus berenti suka maen game?
Tombol-tombol yang akrab di jari main Final Fantasy terganti pahit manis bermain hati.

Kapan harus berhenti baca komik?
Walau koran banyak manfaatnya, One Piece, Conan, Eyeshield 21, dkk selalu punya eksitasi tersendiri.

Kapan harus memaksa jeans kesayangan untuk pensiun?
Dan membiasakan diri bercelana kain. Bah, seperti tak cukup saja tiap hari di kampus ku memakainya.

Kapan harus sadar kalau menikmati momen dengan caraku sendiri tanpa merugikan orang lain adalah dosa?
Kapan aja boyeeh.



Kapan harus dewasa?
Atau lebih tepatnya, kenapa harus indikator teknis seperti itu yang dijadikan patokan?
Padahal aku percaya bahwa manusia bisa pertahankan semangat dan antusiasme si bocah TK tapi tetap mengutamakan kepentingan bersama, berpikir logis idealis namun tetap menjejak realita, visioner namun tak tenggelam dalam masa depan yang masih fana.

Secara tidak sadar kita tumbuh menjadi orang yang mempersempit definisi, mengaburkan makna kedewasaan itu sendiri.

-Aku, yang menolak dewasa dengan cara mereka.

Saturday, May 14, 2011

5 Art of Happiness

1. Physical Happiness
Makan, tidur, olahraga, dsb. Makan menimbulkan sensasi puas, olahraga membantu melepas hormon endorfin yang menimbulkan sensasi senang, tidur mengaktifkan syaraf parasimpatis yg memberi efek rileks.

2. Intelectual Happiness
Belajar, belajar, dan belajar. Semakin banyak belajar, semakin ringan langkah ini dan semakin percaya diri. Emang sih kadang yang namanya belajar itu malesin banget (moreover, given the circumstances kudu ngapalin 32 kasus dalam kurang dari seminggu. groarr), tapi secara ga sadar setelah proses belajar itu selalu ada sensasi puas dan merasa jadi manusia yang lebih baik. Belajar disini ga selalu harus suatu disiplin ilmu tertentu, perluas wawasan umum juga punya efek yang sama,

3. Estetical Happiness
Semua itu harus diatur sedemikian rupa agar enak dipandang. Otak kanan manusia sudah hakikatnya memiliki sense keindahan, maka saat melihat diri, keadaan sekitar, lawan jenis (?!), atau segala sesuatu yang indah-indah lainnya, secara alami kita akan merasa bahagia.

4. Moral happiness
Bermanfaat untuk orang lain. Disadari atau tidak, kebahagiaan yang sesungguhnya didapat dari kita berbagi dengan orang lain. Paradox of sharing, semakin banyak kita berbagi, semakin banyak yang kita dapatkan. Islam juga ngajarin kita bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lain.

5. Spiritual Happiness
Hal yg menjadi ruh dari segala kebahagiaan, tanpa iman, kita tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sepenuhnya. Iman itu hakikatnya naik turun, gue suka ngerasain kalo iman lagi turun, shalat ga khusyuk, mau ngapa-ngapain jadi ga enak. Makanya harus dijaga banget nih yang satu ini. :)

Tulisan ini bersumber dari Prof. Komaruddin Hidayat yang kemudian ditwit oleh @Zulmi_Cumi si senior nan hobi galau et causa pengen cepet kawin dan lalu diritwit lagi oleh @rizkavs mantan ketua seksi gue dulu di Seksi Pembinaan & Kaderisasi Senat Mahasiswa FK Unpad, FYI beliau ini juga salah satu mentor yang mengambil peran cukup besar atas pencapaian-pencapaian yang gue raih. :) Trus ditambah-tambahin dengan pikiran gue sendiri juga sih..hehe.

Now, back to draft SOOCA!

Thursday, May 12, 2011

Through Days Like These We Grew. :)

#nowplaying Feist - Mushaboom

Karena udah lama ga blogging…apa kabar Tumblr?

Edan pundung lah ga mau jawab. Okeh!

Assuming you would ask me back, overall I’m fine. :)

Lagi hectic MDE-SOOCA-SIDANG nih. Semoga aja beneran jadi UAS terakhir gue.

Ujian terakhir yang KERASS (S-nya ampe dobel) ini berlangsung sebulan totalnya. Memberi gue dan temen-temen seangkatan beban fisik dan mental yang ga ringan. But I’m sure we’ll manage. Through days like these we grew, right? :)

Kesehatan agak menurun soalnya banyak begadang demi nonton Burn Notice ngapalin 32 case SOOCA dan ngelahap (not literally) ribuan soal buat MDE.

Lutut kiri masih belom sembuh dari oleh-oleh Olymphiart kemaren, quadriceps straining. Jadi masih betah rehabilitasi manasin-regangin otot tiap pagi dan sedia counterpain di tas. Gue kangen jongkok dan lompat-lompat! Serius ini mah, activitas boker normal terlihat sangat berharga kalo udah gini. Pengen maen basket juga. Not like i had time for sport or anything sih. Ya berdoa aja semoga cepet sembuh deh..amiin.

Kosan acak-acakannya udah kayak kandang. Dengan kondisi ampir tiap malem nginep di Sarmon (Sarang Monyet, kosan Galan yang berasal dari spesies Macaca fascicularis) gue ke kosan cuman mandi-ganti baju-drop dan ambil barang.

Laptop yang setia ngerjain skripsi berminggu-minggu kemaren tombol N-nya rusak kayanya. Harus dipencet keras banget baru keluar. nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.

HP sejak diinstal O.S 6 jadi sering hang dan agak lemot. Sempet kepikiran ganti lagi jadi O.S 5. :/

Pikiran? Ah i can barely think about anything else than my exam. Paling lagi seneng baca-baca soal NII dan PKS, dan keadaan islam di Indonesia sekarang ini.

Emotional state? Relatively stable, with a little endorphins turn-over here and there. ;)

But ah, life is just too short for an emotional roller coaster, ain’t it?

Boleh Berdarah Asal Jangan Mati.

Berikut adalah kumpulan twit gue pada suatu subuh sekitar jam 4 setelah ga tidur semaleman untuk..yah, well..belajar. *dammit, i feel like a genious just by saying that*

When the going gets tough, the tough gets going.
Saat keadaan smakin keras, hanya yang KERAS yg akan bertahan.
*klo ditranslate jd ambigu :/

Sure the days now aren't like any other days. But the self within us, are we just any other us? :)

Through days like these we grew, people. Better, faster, stronger. We might bleed in the process, but stay alive. Because the scars count.

Being sleepy is only a state of mind. I don't need sleep, I just want them so bad. *yawn

If life was a toy, on the box it would say, "CAUTION! NOT FOR LOSERS"

There's this some kind of signal burst both in my phonecells and my brain cells. Its dimwittedly dilbitted.


Kenapa dipindah kesini? Yah soalnya setelah dipikir-pikir sayang aja kalo pikiran-pikiran gue terbuang percuma di Twitter doang yang masa penyimpanan datanya cuma sekitar dua minggu..

Sunday, May 8, 2011

Away and Apart

A home is not a house, its people.
Home is entirely bout the people you love. The people who watched you grew. The people you grew up with. Your family.

Its not about how much time you spend in it.
For nearly 4 years I have spent my life in Jatinangor, a town where my campus stands. Each and every single week in it means 5 days in kosan and 2 days in my real house.
Sometimes when I have some extra activities going on, I didn’t even come home.
It seemed okay at the moment, I would make a single phone call and my mom would say its okay for me not to come home that weekend. I barely notice a dissapointed tone on her voice..

Now, on the verge of my sister’s wedding, I look back to those moment and I feel a slight of regression. Now one of my family will go away, someday my other sister will too. And my time will eventually come too.

I guess its a part of growing up, to be seperated to our own way, to our own destiny..

-Ditulis oleh saya, diatas Damri yang berjalan perlahan. Menjauhi rumah. Menjauhi mereka yang biasa hangatkan jiwa.

Ups and Downs

When I die and my brain is being sectioned, I want those nerdy professor guys to find an interesting-full of ups and downs-story in it.

Yeah, I sometimes forgot that in order for a life to be awesome and UNboring, it needs “downs” as much as it needs “ups”. Well, anything but a straight-plain-mediocre life.
It’ll hurt but I’ll manage. :)

Thursday, March 3, 2011

Miles

“Fuck the miles. Fuck them.”
- Going The Distance

Abis nonton film ini jadi semacam tertohok. Teriris. Tersayat. Terbelah bagai sembilu.(?!)

Selama ini selalu kalah ama yang namanya jarak nih. Padahal jarak terjauh juga cuman Bandung - Jakarta. Not fully committed, my friends used to say. Easily tempted, others would have thought.

Padahal ntar kalo PTT di, lets say Papua, gue bakal jauh sama siapapun itu. Untuk waktu yang ga sebentar pula. Mau jadi apa gua? Mau cinlok ama warga lokal, kawin siri dan menghasilkan anak-anak item rambut kriwel yang berlarian dengan koteka?

Well, that’s exactly not the way i would picture myself in 5 to 10 years ahead.

Yeah, i have to fix it, i guess.

Lost and Found: Excitement


(Ki-Ka: Belakang: Disti, Iie, Ivone, Kate. Depan: Kara, Maya, Bonar, Vina, Novery, Gue )


Yaay! Setelah dua minggu gue ditinggal foto sama kelompok tutor pas lab yang mana lalu fotonya diaplot di FB dengan caption; “Tutor GUS A2 FULL TEAM” (entah kenapa gue tau ada penekanan khusus pada kata “full team”), akhirnya gue berhasil masup foto dan kelompok gue beneran full team! Hahaha.


Sebenernya bukan salah mereka juga gue ga masuk foto di dua kali lab berturut-turut gue cabut lab. Jangan dicontoh ya, I’ve been a bad boy..*geleng-geleng* *mendesah penuh sesal*


Foto-foto di lab gini somehow mengingatkan gue akan excitement dan kebanggan yang once gue miliki. Gue ama anak-anak suka ngetawain ngeliat anak 2010 pada hobi banget foto di kampus. Di lab foto, di plaza foto, di ruang lecture foto, kayaknya tinggal di ruang dekan aja mereka belom foto. (But I know they’re trying, though) Dibalik tawa itu gue keingetan kalo gue ama anak-anak seangkatan 2007 juga sama noraknya ama mereka dulu, but somewhere along the road med-school’s madness took that excitement away from us..


I miss that eagerness, i miss that excitement.

I miss that passion. :’)

Guts and Skills

Tukang Patil.
Don Juan.
Playboy Cap Kampak. (semacem minyak kayu putih)
Si Brengsek Ranking 1.

They have been calling me by almost any ways i can imagine, these days.
They say that I'm a jerk for having so many exes, for having no trouble whatsoever on getting any girl i want, for not waiting long enough to move on from one girl to another.
But the fact is they don't know shit about me. They're just assuming what i am now alike based on what they know about me on my dim past.

But that's okay, i fully understand that people judge you like, all the time.
Its just that after a while of observation, i got to one conclusion.

Society, especially men, actually needs a douchebag.

Weird, eh?
As much as they laughing and "Parah, parah.."-ing my stories, they actually got excited and enjoys every part of them.
Moreover, they kinda worship me i guess. For saying what they cannot say, doing what they cannot do, and having what they cannot have.

And guess what, as soon as my day 1 through retirement from the dirtbag world, they start to whine and begging me not to. Saying all that craps about how not cool i get after i quit being jerk.


There's a huge difference between "wont" and "cant".
So after all, I'm not the bad guy, you know.
I'm just YOU, plus guts and skills.

Thursday, August 5, 2010

KKN: Nyata-Nyata Sebuah Mimpi? Atau Sebuah Mimpi Tentang Realita?

KKNM. Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa.
Sebuah program yang diadakan oleh perguruan tinggi agar mahasiswanya bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat di lapangan. Atau begitulah hasil gue nge-search di berbagai blog dan jurnal. Tema besarnya adalah "Belajar Bersama Masyarakat" Belajar bersama, bukan mengajari atau malah menjadi kurang ajar. Dan seperti yang dikatakan Rektor UNPAD kami tercinta, Prof. Dr. Ganjar Kurnia di artikel ini, bukan pula ajang bagi-bagi duit atau menjadi sinterklas dadakan. Tentunya menjadi sinterklas ga bisa dadakan dong, pasti butuh waktu buat numbuhin jenggot putih sepanjang itu.
See?

Dimulai dengan keluhan, cercaan, bahkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut teman-teman di sekeliling, gue pribadi jujur agak khawatir juga awalnya.
Benarkah KKN akan semenyeramkan itu?
Benarkah KKN akan semenderita itu?
Benarkah gue akan boker di alam terbuka dengan seluruh jagat raya memperhatikan?
Benarkah gue akan disantet jadi gorila?
Benarkah gue akan harus berburu untuk bisa makan?
Benarkah gue akan harus saling bunuh demi ngantri kamar mandi?
Yah setidaknya yang terakhir benar.

Despite of all those insanity, gue berusaha memposisikan diri sebagai orang yang menyemangati dan memberi imaji positif tentang KKN. Karena setelah baca dan ngobrol sana-sini, kebanyakan selentingan tentang KKN itu hanya sebatas hiperbola belaka. Gue berusaha meyakinkan bahwa KKN itu akan menyenangkan dan memberi pelajaran yang ga sedikit. Kadang usaha itu tercampur emosi pribadi yang jengah akan betapa bisa menjadi manja, mudah mengeluh, hipokrit, dan tidak bersyukurnya orang-orang di sekeliling gue. Dan mungkin gue sendiri juga. Wallahualam bi shawab.

Prosesnya sendiri? Bakal gue tulis di post yg beda karena bakal kepanjangan kalo ditulis di sini. Bottom line is, i had a very wonderful month. Kalo ada sutradara berniat bikin film dari setaun idup gue (sutradara kurang kerjaan, misalnya), gue akan masukin 30 hari dari sebulan masa KKN ke film itu. Yep, all those thirty. :)

Skip ke masa pasca-KKN, gue hanya melihat segelintir orang yang masih memandang KKN sebagai sejarah buruk idup mereka. Sisanya? Waw, SBY-Subhanallah Yaa..
Sebagian menyatakan kangen dengan masa, teman-teman, suasana, atau lokasi KKN.
Sebagian bilang kalo mereka dapet banyak banget pelajaran berharga dari KKN.
Sebagian memproklamirkan telah menjadi diri yang lebih baik karena KKN, insya4wl.
Sebagian menyatakan pengen kawin sama kembang desa lokal. (?)
Tapi kebanyakan ingin KKN ga berakhir secepat itu. Seperti mimpi saja, kata mereka.

Mimpi, sebuah pelarian dari dunia nyata.
Sebuah aktivitas di luar rutinitas kehidupan keras. (hey, thats rhyme! :D)
Mimpi, yang mengharuskan kita terbangun di pagi hari dengan merasa kecewa karena itu HANYA mimpi.
Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang kita sebagai mahasiswa, bisa saja itu cuma mimpi.
Tapi secara umum, KKN mengajarkan kita tentang hidup yang NYATA.

Yep, menurut gue, apa yang kita lihat dan rasakan selama KKN itu nyata.
Pahit dan manisnya, itu realita.
Yang NYATA adalah saat kita tahu bahwa sebagian besar penduduk Indonesia hanya mengenyam pendidikan sebatas SMP.
Yang NYATA adalah saat kita melihat profesi umum penduduk desa kita adalah pekerjaan dengan posisi tinggi, secara harfiah. (baca:nyadap gula kelapa) Tentu dengan resiko yang tinggi pula.
Yang NYATA adalah ketika kita mendengar cita-cita anak SD adalah menjadi kuli bangunan. Agar apa? Agar ia bisa membangun rumah untuk orangtuanya, katanya polos.
Yang NYATA adalah melihat betapa berat usaha dan deras peluh yang dikeluarkan petani demi butir-butir beras di piring kita.
Yang NYATA adalah derai hangat tawa masyarakat desa demi menghangatkan diri dari dingin malam yang mencengkram.
Yang NYATA adalah melihat getar tangan nenek tua saat memaksakan mencangkul demi makan sehari.
Yang NYATA adalah tetes air mata seorang ibu yang hidup sebatang kara, saat menceritakan anak-anaknya yang kini sukses materi namun perlahan lupa diri.

Yang nyata adalah, saya, menulis ini sambil membayangkan kembali semua pelajaran yang saya dapat saat KKN, menangis. Menyesali betapa selama ini saya sangat tidak bersyukur akan segala yang saya punya. Betapa mudah luruhnya iman ini dengan gegap gemerlap ke-berada-an kota. Betapa saya masih kerdil, saat memposisikan diri di dunia luas yang sekali lagi, nyata.
"Ingin rasanya cepat menjadi dokter, agar bisa berguna," kata Amey.
"Semakin cepat kamu matang, semakin lama kamu bisa mengabdi," kata Abah Iwan.
Ingin rasanya cepat menjadi manusia yang berguna sesuai porsi agar bisa memperbaiki KENYATAAN-KENYATAAN dalam hidup yang belum seindah idealitas, dengan usaha yang NYATA pula.



Kuliah Kerja NYATA. Apa lagi yang kurang nyata dari itu?
Karena hidup, tak pernah terasa begitu nyata.

Partner vs Trophy

Pertama baca konsep partner-trophy ini dari bukunya Adithya Mulya, Jomblo Mengejar Cinta. Mencoba melihat aplikasinya di keseharian gue, dan ternyata cocok. Hampir semua orang -sadar ato engga- mengaplikasikan ini dalam kehidupan cintanya. *halah* Termasuk gue. :D

Familiar dengan konsep ini? Kalo engga mari kita review..
Jadi menurut Gege (ato Adithya Mulya, sang penulis) orang itu mencari pasangan hidupnya diklasifikasikan jadi dua. Ada yang mencari partner dan ada yang mencari trophy. Apa bedanya? we'll see..

Sang Pengumpul Trophy
Mencari pasangan idup (pacar, istri, u name it) berdasarkan kualitas. Kualitasnya bisa macem-macem, cantik, pintar, 9h4ouL, tenar, apapun itu. Seems engga salah ya? Tapi jadi salah ketika dia mencari orang berkualitas itu untuk dibanggakan.
"Wih gila, koq lo bisa sih dapetin dia? Mantap!"
"Whaow, ke dukun mana lo? Gilaa, congratz yak!"
Omongan-omongan semacem itulah yang dikejar oleh sang pengumpul trophy. Orientasinya adalah dengan bersama orang berkualitas ini dia bisa merasa bangga di hadapan orang-orang di sekitarnya. Kebanggan yang semu. Sesuatu yang sangat rentan luntur lalu gugur.

Sang Pencari Partner
Mencari pasangan idup berdasarkan kecocokan. Atau ketidakcocokan. Mencari seseorang yang bisa memperbaiki kekurangan dan menajamkan kelebihan kita. Karena basic-nya partner, hubungan mereka didasarkan pada simbiosis mutualisme dan rasa yang ada. Saling memperbaiki, saling belajar, saling menumbuhkan. Sambil sesekali mengumbar rasa. :)
Sang pencari partner tahu, dia dan partnernya punya hak dan kewajiban yang sama untuk saling mengembangkan. Bahwa pada akhirnya, berakhir indah atau tidak, mereka tidak akan pernah menyesali hubungan mereka karena mereka mendapat banyak pelajaran dari sana.

Me? I'll go with the partner. At least for now. :D
Pikiran ini muncul lagi setelah ngobrol-ngobrol ama temen KKN gue, Rijut aka si cewek cerdas..ato cadas yah? Ato culas? Ya pokonya itu lah. Dia bilang kalo cowo umur segue udah harus nyari partner, bukan lagi trophy, seperti yang dia bilang selama ini gue lakukan. Well, terima kasih JUT, untuk membuat gue merasa tua dan brengsek sekaligus.

Ada SMS-nya yang gue save.

"Udah sih jngn cari trophy lg. Geus jadi juara umum maneh. Berhentilah d puncak karir.."
Sebuah teori keren. Kalau saja gue ga tau bahwa itu prinsip yang dia dapat dari bermain poker. Ckck, somethings are REALLY better left unknown.

"Emang susah klo mw dapet partner.. Ga cukup cm keren.."
Darn right, it is.

Ah okaay. Enough with this hearted thingy.
Actually love life has not been my priority from some moment back then. I have bigger thing to do and to take responsibility of. Plus i recently considering some way of finding my future wife. One my religion has long ago taught me. We'll see where this thought brought me. :)

See ya on my next post! (it wont be long..gehee)